Indonesia Harus Berhati-hati Mengambil Momentum di Forum Ekonomi Dunia

Di tengah dinamika politik global, Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil peluang di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Pendapat ini diungkapkan oleh Dosen Madya Dr. P. M. Erza Killian dari Universitas Brawijaya. Dia percaya bahwa WEF berkembang tidak hanya sebagai platform ekonomi tetapi juga sebagai forum untuk diskusi geopolitik dan keamanan.
Menurut Killian, Indonesia dapat memperoleh manfaat dengan memposisikan dirinya sebagai ‘kekuatan menengah’ tanpa sekutu eksplisit, menghindari keterlibatan dalam konflik global dan fragmentasi politik. Kebijakan ‘bebas-aktif’ Indonesia memungkinkannya terlibat dalam inisiatif investasi tanpa menyelaraskan dengan agenda konflik.
Perhatian khusus harus diberikan pada sektor seperti transisi energi hijau, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, dan investasi hijau. Inisiatif ini dapat meningkatkan daya tarik negara untuk investor eksternal. Namun, para ahli menyarankan untuk menghindari investasi yang ditujukan pada industri pertahanan untuk mencegah persepsi bias politik.
Selain itu, konsep ‘friend-shoring’—di mana investasi diarahkan ke negara-negara yang berpihak secara politik—tetap menjadi faktor signifikan dalam kebijakan ekonomi dan investasi. Untuk berhasil dalam forum tersebut, Indonesia perlu menawarkan inisiatif unik yang tidak didominasi oleh negara lain.






