Profesor Memprediksi Pelemahan Rupiah hingga Akhir 2026

Profesor Rahma Gafmi dari Universitas Airlangga telah membuat prediksi yang cukup serius terkait rupiah Indonesia. Berdasarkan penelitian beliau, hingga akhir tahun 2026, rupiah bisa mencapai titik terendah sejarahnya, yaitu 20.000 per satu dolar AS. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan ini adalah tantangan eksternal dan internal terkait ketidakstabilan makroekonomi.
Secara umum, pelemahan rupiah bukanlah kejutan. Beberapa tahun terakhir ini, ekonomi Indonesia berada di bawah tekanan karena peningkatan utang nasional, inflasi, dan tantangan ekonomi global. Situasi saat ini membutuhkan intervensi cepat dan strategis dari pemerintah untuk mencegah penurunan lebih lanjut dari mata uang nasional.
Dr. Gafmi menunjukkan bahwa stabilitas rupiah membutuhkan investasi berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi, dua hal yang selama ini sulit dicapai. Langkah kunci yang dapat membantu menstabilkan situasi termasuk reformasi di sektor keuangan dan dukungan untuk usaha kecil dan menengah, yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Bagi badan pemerintah, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investor adalah vital. Investasi di infrastruktur dan perbaikan di kerangka hukum yang mampu mempertahankan investor asing dan lokal akan penting untuk mencegah pelemahan lebih lanjut dari rupiah.
Masalah pasar global juga berdampak. Lingkungan makroekonomi global tetap tidak stabil dan memiliki konsekuensi serius bagi negara-negara seperti Indonesia yang sangat bergantung pada ekspor. Berita utama di seluruh dunia berbicara tentang tarif yang meningkat, sanksi ekonomi, dan faktor geopolitik lainnya yang mempengaruhi nilai tukar mata uang.
Lembaga keuangan global seperti IMF telah memperingatkan pemerintah Indonesia tentang pentingnya stabilitas keuangan. Transparansi dalam tindakan pemerintah dan penyelesaian masalah ekonomi domestik harus menjadi tugas prioritas bagi pemerintahan Presiden di tahun-tahun mendatang.
Apakah langkah diambil? Pemerintah telah menyatakan kesiapan untuk menanggapi tantangan ini dan berencana mengembangkan kebijakan moneter yang lebih berkelanjutan dan membangun kepercayaan pasar. Di antara langkah yang dipertimbangkan adalah peningkatan cadangan mata uang asing dan pengaturan impor untuk menyeimbangkan neraca pembayaran dan mengurangi tekanan pada rupiah.
Semua langkah ini dapat membantu meredakan tekanan dari ancaman eksternal dan mengatur nilai tukar dengan lebih stabil. Jalan panjang dan menantang untuk menstabilkan lingkungan ekonomi regional dan global terletak di depan.



