Etika AI: Tantangan dari Profesor Baru UIN Walisongo

Pada tanggal 14 Februari 2026, sebuah peristiwa penting terjadi di lanskap pendidikan Semarang. Universitas Islam UIN Walisongo mengangkat 10 profesor baru, menegaskan kembali perannya sebagai institusi pendidikan terkemuka di wilayah tersebut. Di antara mereka adalah Profesor Ahmad Faiz, yang menjadi Profesor Ilmu Komunikasi pertama di universitas tersebut. Ia meminta masyarakat untuk menggunakan standar etika kecerdasan buatan untuk meningkatkan kehidupan komunal. Menurutnya, pengembangan teknologi harus disertai norma etika yang tepat untuk memastikan keberadaan harmonis antara manusia dan mesin. Profesor menekankan bahwa masyarakat harus aktif berpartisipasi dalam penciptaan dan penerapan standar ini. Pendekatan semacam itu membantu mengurangi risiko potensial terkait penggunaan AI, seperti pelanggaran privasi, diskriminasi, dan segregasi. Dalam pidatonya, ia menguraikan langkah-langkah spesifik untuk mengintegrasikan etika dalam pengembangan teknologi, mulai dari mendidik mahasiswa hingga membentuk komite etika.



